Jelantah Dibuang ke Sungai

AKTIVITAS perusakan lingkungan dan biota air sungai, terus terjadi. Seperti para pedagang kaki lima

METROBANJAR.CO - AKTIVITAS perusakan lingkungan dan biota air sungai, terus terjadi. Seperti para pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sepanjang Jl A Yani cenderung membuang limbahnya ke sungai di jalan tersebut. Akibatnya, sungai terlihat keruh, berminyak dan kehitam-hitaman.

“Itu yang kita prihatin. Para PKL cenderung membuang limbah ke sungai di Jalan A Yani,” sesal Drs H Hamdi, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin, Minggu (23/3).

Perilaku itu, menurut dia, di antaranya dilakukan pedagang makanan laut atau sea food pada malam hari. Mereka cenderung membuang limbah, berupa air panas, sisa gorengan dan sisa minyak goreng (jelantah) hingga sisa makanan ke sungai. Ini sangat merusak lingkungan dan biota air di sana. “Harusnya limbah para PKL itu tak langsung dibuang ke sungai,” ucap Hamdi.

Ditambahkannya, sampah-sampah padat atau sisa makanan itu sebaiknya dikumpulkan ke plastik. Selanjutnya dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Bukan ke sungai. Lalu, PKL diharapkan jangan langsung membuang air panas atau sisa masakan yang masih panas ke sungai.

“Ini benar-benar akan merusak biota air sungai. Selain itu, air sungai di Jl A Yani akan menjadi hitam, kotor, dangkal dan berbau,” ucap Hamdi.

Dia pun tak melarang PKL untuk berjualan. Namun, sebaiknya tak membuang limbah cair ke sungai dan membuang sampah padatnya ke sungai. Kalau itu terus terjadi, yang rugi warga Banjarmasin. Makan di pinggir jalan akhirnya tidak nikmat, karena air sungai di sampingnya
berbau.

Pemko Banjarmasin, lanjut Hamdi, secara bertahap akan memindahkan PKL di Jl A Yani ke Jl Pos Banjarmasin. Tahap awal, puluhan PKL. Di lokasi yang baru, limbah PKL akan dimasukkan ke kolam kecil sehingga limbah mengendap di sana. Nah, kolam itu akan dikonekkan ke pipa PD IPAL Banjarmasin.

Ditambahkan Hamdi, kegiatan utama BLH, yakni mengendalikan pencemaran dan memonitoring potensi pencemaran lingkungan baik pencemaran udara, tanah dan air. Pihaknya mengawasi aktivitas pembuangan limbah, baik rumah sakit, hotel, PT PLN, penampungan oli, hingga perusahaan karet.

Dijelaskan Hamdi, pengawasan BLH kepada pelaku usaha dan perusahaan ada dua cara, yakni berkirim surat resmi ke perusahaan dan melakukan sidak. Dengan metode, berkirim surat, BLH memberi tahu akan datang ke perusahaan. Selanjutnya, perusahaan diminta menyiapkan laporan pembuangan limbahnya.

“Data UKL dan UPL akan kita cek ke lapangan. Sesuai atau tidak. Kita pun memberikan saran-saran dan rekomendasi untuk perbaikan pengelolaan limbahnya,” ucapnya.

Cara kedua, lanjut dia, dengan sidak langsung ke lapangan. Petugas BLH tidak memberitahu ke perusahaan soal kedatangannya. Misalnya, BLH ingin mengetahui bagaimana upaya bagaimana pelaksanaan pembuangan limbahnya.

“Kita akan cek IPAL-nya. Kita juga akan cek flow meternya,” ucap Hamdi.

Setiap minggu, petugas BLH pasti ke lapangan. Mereka mengecek pelaksanaan pembuangan limbah perusahaan dan para pelaku usaha.

Diharapkan, dengan kontrol ini pencemaran lingkungan bisa diminimalkan. (ogi)

Editor: BPost Online
Sumber: Metro Banjar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved