Soeharto, Presiden RI Terlama Lakukan Perjalanan LN

Hal itu terungkap dalam buku Sisi Lain Istana 2 yang ditulis oleh J Osdar, wartawan senior harian Kompas

Soeharto, Presiden RI Terlama Lakukan Perjalanan LN
metrobanjar.com/net
Presiden ke-2 RI, Soeharto

METROBANJAR.CO, JAKARTA - Hingga kini, baru presiden kedua Indonesia Soeharto yang pernah berada di luar negeri selama 25 hari dalam sekali perjalanan, yakni 19 November sampai 14 Desember 1991.

Hal itu terungkap dalam buku Sisi Lain Istana 2 yang ditulis oleh J Osdar, wartawan senior harian Kompas.

Dalam buku itu disebutkan, Negeri yang dikunjungi Soeharto adalah Meksiko, Venezuela, Zimbabwe, Tanzania dan Senegal. Persinggahan pertama Soeharto saat itu adalah Honolulu, Amerika Serikat.

"Sedangkan tempat lain yang disinggahi adalah Cancun, Meksiko dan Las Palmas," tulis Osdar.

Di Mexico City, Harare, dan Tanzania, Soeharto melakukan kunjungan resmi. Di Senegal, Soeharto memimpin delegasi Indonesia mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Islam. Di Caracas, Soeharto memimpin delegasi untuk KTT G-15 untuk kerja sama Selatan-Selatan ke-2.

Perjalanan ke negara-negara anggota Nonblok itu berkaitan dengan kampanye tuan rumah KTT Nonblok di Jakarta, September 1992 yang akhirnya sukses besar.

Menurut Osdar, tujuh hari sebelum berangkat, di Timor Timur terjadi insiden. Personel ABRI menembaki pengunjuk rasa di pemakaman Santa Cruz, Dili. Puluhan orang tewas dan cidera. Presiden membentuk Komisi Penyelidikan Nasional.

Dampak dari peristiwa itu mengejutkan Soeharto. Selama perjalanan, ia sibuk menjelaskan kepada para pemimpin negara yang dijumpainya.

"Sebenarnya kejadian itu tidak berarti apa-apa. Akan tetapi, pemberitaan di luar negeri luar biasa, bahkan dikaitkan dengan bantuan luar negeri. Itu tentu akan menjadi masalah di PBB," kata Soeharto.

Kepada pemimpin negara-negara yang dijumpai, Soeharto mengatakan, di peta Indonesia, Timor Timur itu hanya kecil. "Semua tertawa. Pulau kecil saja, koko, membuat mereka ngotot," ujar Soeharto.

Memperkecil peristiwa itu ternyata memperbesar masalah. Soeharto mempercepat kepulangan. Ia tiba di Jakarta 11 Desember, lebih cepat dari rencana tanggal 14 Desember. Usaha meredam pemberitaan itu sia-sia.

Indonesia di mata internasional terus memburuk sampai presiden BJ Habibie mengatakan, "pokoknya mulai 1 Januari 2000 kita tidak mengenal masalah Timtim lagi.. Berikan kemerdekaannya."

"Ini pelajaran. Jangan memperkecil masalah Papua," tulis Osdar di bukunya.

Tags
soeharto
Editor: Didik Triomarsidi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved