MetroBanjar/

Warga Menilai Pemasangan Baliho Larangan Prostitusi Bukan Penutupan Lokalisasi Pembatuan

Tapi, para PSK yang berada di sana menilai keberadaan baliho itu bukan penutupan.

Warga Menilai Pemasangan Baliho Larangan Prostitusi Bukan Penutupan Lokalisasi Pembatuan
Banjarmasin Post Group/Nia Kurniawan
PASANG BALIHO - Satpol PP Banjarbaru memasang baliho raksasa, yang memuat atuan Perda Nomor 6 Tahun 2002 tentang Larangan Prostitusi, di jalan masuk Pembatuan, Senin (25/7). 

METROBANJAR.CO, BANJARBARU - Kini ada yang beda di jalan masuk Pembatuan. Di eks lokalisasi tersebut berdiri kokoh dua baliho raksasa, yang memuat Perda Nomor 6 Tahun 2002 tentang Larangan Prostitusi.

Tapi, para PSK yang berada di sana menilai keberadaan baliho itu bukan penutupan.

Puluhan anggota Satpol PP Banjarbaru mengamankan jalannya pemasangan dua baliho raksasa tersebut, Senin (25/7/2016). Baliho raksasa yang memuat larangan prostitusi itu dipasangan di dua tempat, yakni satu Jalan Trikora dan satunya di Jalan A Yani.

Pemasangan baliho itu disikapi dingin oleh warga Pembatuan. Mereka tenang dan santai di dalam rumah masing-masing, saat baliho itu didirikan. Tak ada hiruk-pikuk atau kerumunan warga di luar rumah.

"Cuma pemasangan baliho saja. Warga menanggapi biasa saja dan menilai hal itu bukan penutupan. Kami dipanggil wali kota saja belum," kata Hidayat, ketua RT Pembatuan RT 6.

Hidayat mengatakan, warga sebenarnya berkeinginan agar spanduk atau baliho itu tidak pasang.

“Saya perhatikan warga sepertinya akan bertahan, karena warga masih berharap perwakilan bisa bertemu wali kota," ujarnya.

Menurut Hidayat, di eks lokalisasi Pembatuan ada sekitar 171 PSK.

“Hampir separuhnya hilang, karena banyak yang tak kembali atau belum pulang pascapulang kampung Lebaran,” ujarnya.

Seorang warga Pembatuan, sebut saja Nana, mengaku pengunjung sekarang sunyi.

“Yang datang ke sini cuma mampir sebentar, lalu lanjutkan perjalanan ke Kalteng atau ke Kaltim. Sunyi sekarang, apalagi adanya baliho itu," ujarnya.

Kasatpol PP Banjarbaru, H Masjudin Noor, mengatakan pemasangan baliho itu sudah melalui pembicaraan dengan RT, RW, tokoh masyarakat, lurah dan camat.

"Kami dengar tadinya memang ada rencana demo. Alhamdulillah tidak terjadi,” ujarnya.

Masjudin mengatakan penutupan tempat prostitusi ini sudah didukung tokoh masyarakat.

“Tokoh masyarakat, Forum RT/RW, MUI Kecamatan Landasan Ulin dan berbagai pihak telah menandatangani kesepakatan bersama untuk mendukung Pemerintah Kota Banjarbaru menghentikan praktek prostitusi di Banjarbaru,” ujarnya. (kur)

Editor: Muhammad Yamani
Sumber: Metro Banjar
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help