Heldayati Dibekuk Gara-gara Minum Kopi Berbonus Carnophen

Bisnis kopi berbonus Charnophen yang dijalankan Heldayati ini akhirnya diketahui warga. Warga pun kemudian melaporkannya ke Polres HSS.

Heldayati Dibekuk Gara-gara Minum Kopi Berbonus Carnophen
istimewa
Ilustrasi-Pil Koplo 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Ada-ada saja ulah Heldayati (27). Untuk menarik perhatian remaja dan pemuda, pemilik warung ini menyediakan bonus khusus. Pengunjung yang minum kopi di warungnya, gratis obat Charnophen, obat daftar G yang sering disalahgunakan dengan tujuan teler.

Trik yang dipakai Heldayati, warga Desa Malutu, Kecamatan Padangbatung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, ini berhasil. Warung yang buka sampai tengah malam ini selalu dipenuhi para pria, baik remaja maupun dewasa.

Bisnis kopi berbonus Charnophen yang dijalankan Heldayati ini akhirnya diketahui warga. Warga pun kemudian melaporkannya ke Polres HSS.

Bertepatan HUT Kemerdekaan RI, Rabu (17/8/2016), sekitar pukul 22. 30 Wita, anggota gabungan Satintel dan Satres Narkoba Polres HSS melakukan pengintaian dan mengepung di warung ada depan rumah Heldayati tersebut.

“Saat itu seorang anggota melihat seorang membuang dompet ke belakang rumah. Setelah diambil dan dicek, dompet itu berisi Charnophen sebanyak 47 butir,” kata Kasubbag Humas Polres HSS AKP Agus Winartono, Jumat (19/8).

Dengan temuan itu, kata Agus, didampingi Ketua RT setempat, anggota Satnarkoba menggeledah rumah Heldayati. Di rumah tersebut ditemukan uang yang diduga dari hasil penjualan obat senilai Rp 490.000.

“Heldayati kami bawa ke Mapolres HSS. Saat diperiksa penyidik, dia mengaku tidak menjual obat tersebut. Tapi dia memberikannya sebagai bonus bagi setiap pengujung yang mampir ke warungnya,” jelas Agus.

Meski tak dijual, kata Agus, perbuatan perempuan muda itu tetap melangar hukum, karena memberi obat itu bukan untuk penyembuahan, melainkan untuk tujuan penyalahgunaan.

“Tersangka pun mengakui, dengan cara menggratiskan beberapa butir Charnophen kepada pengujung, warungnya selalu dipadati remaja yang mengonsumsi obat,” ujarnya.

Meski menggratiskan pil teler, Heldayati tetap memperoleh keuntungan. Caranya dia menaikkan harga secangkir kopi dan makanan. “Satu gelas kopi, yang biasa Rp 2000 sampai Rp 3.000, dijual Heldayati Rp 5.000,” ujar Agus. (han)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Metro Banjar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved