MetroBanjar/

Pembuluh Darah Sitronelli Pecah

Sitronelli (21), mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Juanda, Bogor, Jawa Barat, tewas bukan karena keracunan

Pembuluh Darah Sitronelli Pecah
Pos Belitung
Sitroneli bersama rekan-rekannya 

METROBANJAR.CO, PALANGKARAYA - Sitronelli (21), mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Juanda, Bogor, Jawa Barat, tewas bukan karena keracunan kopi dan pizza yang dipesannya di Rollaas Coffe and Tea, Palangkaraya, Kalteng. Tapi karena penyakit paru-paru kronis yang dideritanya.

Polresta Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sudah mengetahui penyebab kematian Sitronelli, Selasa (20/12). Dari hasil autopsi, meninggalnya mahasiswi asal Bangka Belitung yang tengah mengikuti pertukaran mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Palangkaraya itu bukan karena makan pizza dan minum kopi Americano, yang dipesannya di Rollaas Coffe and Tea di Jalan Antang Palangkaraya, Minggu (18/12) pukul 18.00 WIB.

Dokter ahli forensik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Doris Sylvanus Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dr Ricka Brilianty Zaluchu, mengatakan penyebab tewasnya Sitronelli bukan karena keracunan atau diracun, tetapi akibat penyakit paru-paru.

“Penyakit paru-parunya sudah kronis. Akibatnya pembuluh darah pecah. Makanya darah keluar dari mulut dan hidung. Nyawa korban tak bisa diselamatkan saat dilarikan ke RSI Muhammadiyah Palangkaraya (UMP),” ujarnya.

Hasil autopsi ini bertolak belakang dengan keterangan paman korban, Zulkarnaen, yang datang ke Palangkaraya bersama saudara korban.

"Sepengetahuan saya dan keluarga korban, Sitronelli tidak ada riwayat sakit paru-paru,” ujarnya.

Karena hasil autopsi begitu, kata dia, mereka percaya saja. “Kami sudah mempercayakan masalah ini kepada pihak yang berwajib dan dokter untuk memeriksanya," ujarnya.

Usai diautopsi jenazah Sitronelli dibawa ke Bangka Belitung untuk dikuburkan. "Korban adalah anak yatim. Dia hanya punya ibu yang saat ini sedang syok setelah mendapat berita kematian tersebut. Kami sudah ditunggu ibunya di Bangka Belitung,” ujarnya.

Sementara itu, Widya Sari, dekan Fakultas FKIP dari Universitas Juanda Bogor Jawa Barat, yang ditemui saat memantau jenazah korban di Palangkaraya, mengatakan korban bersama tiga temannya makan dan minum di kafe untuk melakukan perpisahan. “Tugas mereka di UMP akan berakhir Kamis (22/12),” ujarnya.

Sari mengatakan kejadian itu sama sekali tidak mereka duga. “Saya kenal sekali dengan almarhumah. Dia mahasiswa pintar dan banyak dosen menginginkannya jadi asisten. Kami sangat kehilangan mahasiswi berprestasi,” ujarnya.

Terpisah, Kasat Reskrim Polresta Palangkaraya, AKP Erwin TH Situmorang, mengatakan meski sudah mengetahui hasil autopsi, pihaknya belum bisa menyimpulkan kematian korban. “Kami masih menunggu hasil pemeriksaan dari laboratorium forensik Polri di Surabaya,” ujarnya.

Pemeriksaan terhadap saksi-saksi, kata dia, hingga saat ini masih dilakukan. “Pemeriksaan terhadap para saksi masih berjalan,” ujarnya. (tur)

Editor: BPost Online
Sumber: Metro Banjar
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help